Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Indonesia antara Harapan dan Kenyataan
KabarIndonesia -
Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil membentuk generasi
muda yang unggul dan berkarakter. Hilangnya sebagian karakter generasi
muda disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya melalui faktor
internal yang merupakan faktor-faktor yang disebabkan oleh manusia itu
sendiri. Contohnya dalam lingkup terkecil di masyarakat yaitu keluarga,
di mana pola hidup yang semakin sibuk dan serbamodern mengakibatkan
hilangnya fungsi-fungsi keluarga.
Minimnya komunikasi antara
orang tua dan anak mengakibatkan anak merasa kurang diperhatikan dan
terkadang anak lebih memilih untuk bergaul dengan lingkungan yang salah,
rasa diabaikan pada diri anak akan menyebabkan labilnya emosi dan
penalaran pada diri anak sehingga berdampak pada kenakalan, tawuran,
narkoba, miras, perilaku seks bebas dan sebagainya
.
Faktor yang
kedua adalah lingkungan masyarakat, dimana pola kehidupan di lingkungan
masyarakat saat ini yang selalu mencari alternatif termudah dalam
menyelesaikan segala permasalahan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai
kehidupan yang ada di dalamnya (gotong royong, kerukunan beragama dan
bermasyarakat, hukum dan keadilan, demokrasi dsb.
Dari tabel di
atas, pada tahun 2010 terdapat 102 kasus tawuran pelajar dengan 17 orang
meninggal. Pada tahun 2011 terdapat 96 kasus tawuran dengan 12 orang
meninggal, sedangkan pada tahun 2012 terdapat 103 kasus tawuran dengan
17 orang meninggal. Hal ini terlihat adanya kecenderungan peningkatan
kasus tawuran pelajar di Indonesia. (Sumber data: Komisi Perlindungan Anak Indonesia 2012)
Konsep Jati Diri dan Esensi Karakter Bangsa
Jati
diri merupakan fitrah manusia yang merupakan potensi dan bertumbuh
kembang selama mata hati manusia bersih, sehat, dan tidak tertutup. Jati
diri yang dipengaruhi lingkungan akan tumbuh menjadi karakter dan
selanjutnya karakter akan melandasi pemikiran, sikap dan perilaku
manusia. Oleh karena itu, tugas kita adalah menyiapkan lingkungan yang
dapat mempengaruhi jati diri menjadi karakter yang baik, sehingga
perilaku yang dihasilkan juga baik.
Karakter pribadi-pribadi
akan berakumulasi menjadi karakter masyarakat dan pada akhirnya menjadi
karakter bangsa. Untuk kemajuan Negara Republik Indonesia, diperlukan
karakter yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral,
bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya, dan
berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan
takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karakter yang berlandaskan
falsafah Pancasila artinya setiap aspek karakter harus dijiwai ke lima
sila Pancasila secara utuh dan komprehensif yang dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Bangsa yang Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa
Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bentuk kesadaran dan perilaku iman
dan takwa serta akhlak mulia sebagai karakteristik pribadi bangsa
Indonesia. Karakter Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa seseorang
tercermin antara lain hormat dan bekerja sama antara pemeluk agama dan
penganut kepercayaan, saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah
sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu; tidak memaksakan agama dan
kepercayaannya kepada orang lain.
2. Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sikap
dan perilaku menjunjung tinggi kemanusian yang adil dan beradab
diwujudkan dalam perilaku hormat menghormati antarwarga negara sebagai
karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Karakter kemanusiaan seseorang
tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat, hak, dan
kewajiban; saling mencintai; tenggang rasa; tidak semena-mena terhadap
orang lain; gemar melakukan kegiatan kemanusiaan; menjunjung tinggi
nilai kemanusiaan; berani membela kebenaran dan keadilan; merasakan
dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia serta mengembangkan
sikap hormat-menghormati.
3. Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Komitmen
dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia di
atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan merupakan karakteristik
pribadi bangsa Indonesia. Karakter kebangsaan seseorang
tecermin dalam sikap menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan
keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan; rela
berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai bangsa
Indonesia yang bertanah air Indonesia serta menunjung tinggi bahasa
Indonesia; memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang
ber-Bhinneka Tungal Ika.
Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia
Sikap
dan perilaku demokratis yang dilandasi nilai dan semangat kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
merupakan karakteristik pribadi warga negara Indonesia. Karakter kerakyatan seseorang
tecermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan
negara; tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; mengutamakan
musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama; beritikad baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan
keputusan bersama; menggunakan akal sehat dan nurani luhur dalam
melakukan musyawarah; berani mengambil keputusan yang secara moral dapat
dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai
kebenaran dan keadilan.
5. Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan
Komitmen dan sikap untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan merupakan karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Karakter berkeadilan sosial seseorang
tecermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan
suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan; sikap adil; menjaga
keharmonisan antara hak dan kewajiban; hormat terhadap hak-hak orang
lain; suka menolong orang lain; menjauhi sikap pemerasan terhadap orang
lain; tidak boros; tidak bergaya hidup mewah; suka bekerja keras;
menghargai karya orang lain.
Karakter yang Diharapkan
Untuk
mencapai karakter bangsa yang diharapkan sebagaimana tersebut di atas,
diperlukan individu-individu yang memiliki karakter. Oleh karena itu,
dalam upaya pembangunan karakter bangsa diperlukan upaya sungguh-sungguh
untuk membangun karakter individu (warga negara). Secara psikologis
karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa.
Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif. Olah raga berkenaan
dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan
aktivitas baru disertai sportivitas. Olah rasa dan karsa berkenaan
dengan kemauan dan kreativitas yang tecermin dalam kepedulian,
pencitraan, dan penciptaan kebaruan. Karakter individu yang dijiwai oleh
sila-sila Pancasila pada masing-masing bagian tersebut, dapat
dikemukakan sebagai berikut;
1. Karakter yang bersumber dari olah hati, antara
lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan,
bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah,
rela berkorban, dan berjiwa patriotik;
2. Karakter yang bersumber dari olah pikir antara lain cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi Iptek, dan reflektif;
3. Karakter yang bersumber dari olah raga/kinestetika antara
lain bersih, dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan,
bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih;
4. Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara
lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah,
hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia),
mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotis), bangga
menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan
beretos kerja.
Olah hati, olah pikir, olah raga, serta olah
rasa dan karsa sebenarnya saling terkait satu sama lainnya. Oleh sebab
itu, banyak aspek karakter yang dapat dijelaskan sebagai hasil dari
beberapa proses.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar